Pengertian Tentang Keris, Senjata Tradisional Nusantara

keris
Keris dalam berbagai bentuk.

Banyak peneliti di dunia mencoba untuk memahami keris. Bahkan banyak pula, terhitung ratusan, buku yang membedah dan meneliti tentang senjata tradisional Nusantara itu. Salah satu peneliti tersebut adalah Basuki Teguh Yuwono. Ia menulis beberapa hal penting dalam buku “Keris dalam Perspektif Keilmuan .

Pengertian Keris dari aspek etimologis

Aspek etimologis merupakan aspek yang cukup mendasar untuk dilakukan penelitian lebih mendalam. Rentan wak1u perjalanan sejarah yang panjang, persebarannya yang luas hampif di seluruh Wilayah nusantara serta beragamnya suku dan bahasa masyarakat yang ada di dalamnya sering kali terdapat pergeseran istilah yang kemudian membias kepada makna yang terkandung atau tersirat dari istilah tersebut.

Seorang bangsawan di lingkungan keraton Surakarta, Pangeran Hadi Widjojo pernah mengatakan bahwa kata keris berasal dari bahasa Jawa kuno yang d1jabarkan dari akar kata “kris” dalam bahasa Sansekerta yang berarti menghunus. Sementara itu seorang guru besar agama Islam di Yogyakarta, Ki Moesa Al- Mahfoed, berpendapat agak lain. Ia menyatakan bahwa kata keris berasal dari kata “haris”, yang berarti penjaga keselamatan diri. Ejaan keris pun bermacam-macam.

Dalam berbagai literatur Barat ditemukan ejaan kris, karis, Galis, crist, creis, creest, kriss, dan krees. Sementara itu orang Minangkabau di Sumatera Barat menamainya kari, orang Sulawesi Selatan menyebutnya tappi, dan di Minahasa disebut kekesur.

Pengertian Keris dari Aspek Bentuk

Keris sebagai karya yang utuh memiliki karakteristik bentuk khas sehingga bisa dibedakan dengan tosan aji lainnya. Keris bagi masyarakat Jawa bisa disebut sebagai “gegaman landhep kang mawa warangka lan ukiran” yang artinya kurang lebih “keris merupakan senjata tajam yang dilengkapi warangka (penutup bilah) dan ukiran (hulu)”.

Sebuah benda dapat disebut sebagai keris apabila memiliki tiga bagian pokok yaitu ukiran (hulu), warangka (sarung), dan Wilahan (bilah). Bagian ukiran dan warangka serta kelengkapannya biasanya di sebut dengan istilah sandungan keris.

Keris Lajer.

Crisi Keris Senjata Tradisional Nusantara

Sebuah benda dapat digolongkan sebagai keris bila benda itu memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Keris atau senjata tradisional Nusantara harus terdiri dari dua bagian utama, yakni bagian bilah keris (termasuk pesi) dan bagian ganja. Bagian bilah dan pesi melambangkan wujud lingga, sedangkan bagian ganja melambangkan wujud yoni. Dalam falsafah Jawa, yang bisa dikatakan sama dengan falsafah Hindu persatuan antara lingga dan yoni merupakan perlambang harapan atas kesuburan, keabadian (kelestanan) dan kekuatan.

2. Bilah keris atau senjata tradisioinal Nusantara harus selalu membuat sudut tertentu terhadap ganja, tidak tegak lurus. Kedudukan bilah keris yang miring atau condong ini adalah perlambang dari sifat orang Jawa dan suku bangsa Indonesia lainnya, bahwa seseorang, apa pun pangkat dan kedudukannya harus senantiasa tunduk dan hormat, bukan saja pada sang pencipta, tetapi. Juga pada sesamanya

3. Ukuran panjang bilah keris yang lazim adalah antara 33 cm sampai 38 cm. Beberapa keris luar pulau Jawa bisa menicapai 58 cm (bahkan ke1is buatan Filipina Selatan, panjangnya ada yang mencapai 64 cm. Keris yang terpendek adalah keris Budha dari keris buatan ‘Nyi Sombro Pajajaran, yakni hanya sekitar 16- 18 cm

4. Keris yang baik harus dibuat dan ditempa dari tiga macam logam, minimal dua, yakni besi, baja dan bahan pamor. Keris-keris tua, semisal keris Budha, tidak menggunakan baja. Meskipun masih ada beberapa kriteria lain untuk bisa mengatakan sebuah benda adalah keris, namun empat ketentuan diatas itulah yang terpenting. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *